MINDFUL EATING : DHARMA YANG SEDERHANA

Oleh: Putu Nityantari*

Pernahkah Anda makan terburu-buru?

Atau Anda sering lupa beberapa hari lalu makanan apa saja yang Anda makan?

Jika kedua pertanyaan di atas pernah atau sering terjadi pada Anda saat makan, itu tandanya Anda belum sepenuhnya bersikap Mindful Eating. Sikap psikologis ini memberikan banyak manfaat dan menambah amal pahala kita. Untuk mengetahui lebih lanjut, mari simak penjelasan berikut ini.

Sebelum membahas mengenai Mindful Eating, kita perlu memahami terlebih dahulu induk sikap psikologis ini yakni Mindfulness. Dikutip dari berbagai sumber, Mindfulness diartikan sebagai sikap memberikan fokus/perhatian penuh pada suatu aktivitas yang sedang dilakukan tanpa terganggu oleh masa lalu maupun kekhawatiran akan masa depan. Mindfulness memiliki istilah “Living in the moment.” Sikap ini sangat dianjurkan untuk dilakukan pada setiap aktivitas sehari-hari, salah satunya aktivitas menyantap makanan atau disebut Mindful Eating.

Lalu, apa itu Mindful Eating?

Mindful Eating merupakan bentuk Mindfulness yang berarti melakukan aktivitas makan dengan fokus/menaruh perhatian penuh pada makanan yang disantap seperti menikmati setiap suapan, rasa, dan tekstur dari makanan tersebut tanpa terganggu hal-hal di sekitar. Selain itu, mengunyah secara perlahan juga termasuk sikap Mindful Eating. Menikmati makanan dengan penuh perhatian ini bukan berarti harus makan secara slow motion ya, tapi makan dengan fokus tanpa melakukan aktivitas lain yang membuat kita “hanya sekedar makan” sehingga kita mudah melupakan rasa, tekstur, atau bahkan komponen yang tersaji di piring kita.

Menerapkan Mindful Eating sama halnya dengan menghormati makanan yang tersaji sebagai rasa syukur/penghormatan karena Dewi Annapura (Dewi pemberi makanan) telah memberikan hidangan yang bermanfaat bagi tubuh kita. Hal ini sebagaimana kita menghormati Dewi Saraswati sebagai dewi ilmu pengetahuan dan Dewi Laksmi sebagai dewi kesejahteraan. Sri Krsna juga mengingatkan raja Yudhistira dengan tegas agar memberikan perhatian penting pada makanan (‘dadasva annam, dadasva annam, dadasva annam’). Dikutip dari laman Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat (phdi.or.id), sikap menghormati makanan sangat dianjurkan dalam Taittiriya Upanisad berikut ini.

Annam na nindyat tad vratam prano va annam sariramannadam

Prane sariram pratishitam sariram pranam pratishitah tad etannamanne pratishitam

Sa ya etad annamanne pratishitam veda pratitisthati annavannado bhavati

Mahan bhavati prajaya pasubhir brahmavarca-sena

Mahan kirtya

(Taittiriya Upanisad, bhrguvalli, Anuvak 7.1)

Artinya :

“Jangan pernah menunjukkan rasa tidak hormat pada makanan. Makanan adalah sumpah suci agama. Sesungguhnya nafas hidup adalah makanan. Sedangkan badan jasmani merupakan pemakan dari makanan. Badan jasmani berada ajeg dalam napas hidup dan napas hidup berada ajeg dalam badan jasmani. Makanan berada ajeg dalam makanan. Ketika orang menyadari hal ini, bahwa makanan berada ajeg dalam makanan, maka ia berada mantap di jalan spiritual. Dia menjadi pemilik makanan dan menjadi orang yang merasakan rasa sejati makanan. Dia menjadi muha (terkenal, ed.) oleh keturunan, ternak, oleh kemuhaan Brahman, dan ia menjadi terkenal karena hakikatnya.”

Dalam Veda turut disabdakan pula sikap Mindful Eating, yakni tertulis pada Atharvaveda XV.14.2 berikut ini.

  1. Manasā-annādena-annam atti

 (Atharvaveda XV.14.2)

Artinya :

‘Makanlah makanan Anda dengan penuh perhatian’

Berdasarkan paparan kedua sabda suci tersebut, menikmati makanan dengan menerapkan sikap Mindful Eating sangat dianjurkan. Namun, kita masih saja abai dan belum sepenuhnya menerapkan Mindful Eating ini, seperti menonton (serial/film) saat makan, bermain gadget atau mengobrol. Bahkan, makan secara terburu-buru menjadi salah satu ciri belum Mindful ketika sedang menyantap makanan. Padahal menyantap makanan dengan penuh perhatian memberikan banyak manfaat. Dilansir dari laman IDN Times, manfaat Mindful Eating yaitu:

  1. Merasa cepat kenyang dan puas. Hal ini karena perhatian kita terfokus pada makanan yang kita santap sehingga kita juga merasakan ketika makanan itu sudah habis di piring kita. Jika rasa kenyang cepat terasa, kita akan terhindar dari pola makan berlebih.
  2. Lebih menikmati makanan. Hal ini karena kita mengunyah perlahan sehingga dapat merasakan tekstur, rasa manis, asam atau pedas dari makanan tersebut. Selain itu, kita dapat mengingat dengan baik makanan apa yang telah kita santap tersebut.
  3. Penyerapan nutrisi yang lebih baik. Mengunyah perlahan dan tidak terburu-buru menjadikan tubuh mampu mengasimilasikan makanan lebih baik sehingga penyerapan nutrisi menjadi sempurna.
  4. Beramal kebaikan. Dengan menerapkan Mindful Eating, berarti kita menghargai proses pembuatan dan penyajian makanan tersebut. Dengan demikian, kita turut menghargai kerja keras koki yang memasak makanan dan bersyukur sekaligus menghormati Dewi Annapura atas sumber daya alam yang tersaji di piring kita dengan begitu kita telah beramal baik kepada diri sendiri dan orang lain.

Ayo, jadikan sikap Mindful Eating sebagai kebiasaan baik mulai sekarang. Kebiasaan baik akan berdampak baik bagi diri sendiri dan orang lain.

OM Santih, Santih, Santih, OM.

 

*Putu Nityantari adalah seorang mahasiswi jurusan Ilmu Perpustakaan (2019) pada Universitas Diponegoro dan anggota KMHD Undip.

 

Referensi:

https://www.idntimes.com/health/fitness/eka-amira/manfaat-kesehatan-mindful-eating-c1c2-1
https://hellosehat.com/nutrisi/berat-badan-turun/mindful-eating-kesadaran-saat-makan/

https://lifestyle.kompas.com/read/2018/10/11/070700820/demi-kesehatan-mental-mari-praktikkan-mindfulness-di-segala-rutinitas?page=all#page2 https://riliv.co/rilivstory/mengenal-mindfulness-bikin-kita-selalu-happy/

https://phdi.or.id/artikel/menghormati-makanan-dalam-tradisi-veda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *