Kekuatan Mantram Gayatri yang Menakjubkan

Gayatri, Savitri, atau Saraswati adalah ketiga nama dari mantra Gayatri. Gayatri adalah doa universal yang tercantum dan diabadikan dalam Veda, kitab suci paling purwakala. Ia adalah Ibu Veda. Mantra ini dianggap sebagi intisari ajaran Veda. Mantra Gayatri yang ditemukan oleh Rsi Visvamitra ini merupakan bait pertama dari enam bait yang terdapat dalam mantra Tri Sandhya. Bunyi mantra Gayatri adalah sebagai berikut.

“Om bhur bhuvah svah

tat savitur varenyam

bhargo devasya dhimahi

dhiyo yonah pracodayat.”

Artinya:

“Ya Tuhan Pencipta tiga loka ini,

Engkaulah sumber segala cahaya,

Engkau sumber kehidupan,

Pancarkanlah pada budhi nurani ini sinar-Mu yang maha suci.”

Ketiga nama mantra gayatri yang disebutkan di atas memiliki arti tersendiri : Gayatri adalah penguasa indera, Savitri adalah penguasa prana ‘daya hidup atau tenaga hayati’, dan Sarasvati adalah aspek Tuhan yang menguasai kemampuan bicara.  Ketiganya melambangkan kemurnian pikiran, perkataan, dan perbuatan. Mantra Gayatri ditujukan kepada Tuhan yang imanen dan transenden (Tuhan yang berada dalam kesadaran segala makhluk dan segala sesuatu). Mantra Gayatri dapat dianggap memiliki tiga bagian, yaitu pujian, meditasi dan doa. Ketiga bagian itu dapat dilukiskan seperti di bawah ini.

  1. Pujian pada Savita. Mula-mula Tuhan dipuja.
  2. Meditasi pada Savita. Setelah itu Tuhan direnungkan dengan khidmat.
  3. Doa kepada Savita. Diajukanlah permohonan kepada Tuhan untuk membangkitkan dan menguatkan akal budi atau kemampuan pertimbangan yang bijak dalam diri kita.

Mantra Gayatri adalah doa yang dapat diucapkan dengan penuh kerinduan oleh  pria dan wanita dari segala agama dan kepercayaan serta bangsa sepanjang masa. Pengulangan mantra ini akan mengembangkan (kemampuan) akal budi. Mantra ini mempunyai potensi yang tidak terbatas dan merupakan formula yang penuh vibrasi. Mantra Gayatri mempunyai kekuatan yang luar biasa dan tidak terhingga, kekuatan yang sungguh menakjubkan karena Surya merupakan dewa penguasanya. Doa ini memohon pada kekuatan mulia yang meresapi Surya dan ketiga alam, agar menggugah, membangkitkan dan menguatkan kecerdasan sehingga dapat membimbing kita menuju sukses melaui sadhana yang intensif.

Orang yang mengucapkan mantra Gayatri secara teratur dengan penuh keyakinan akan memperoleh faedah antara lain mantra Gayatri membebaskan dari berbagai penyakit, menangkis atau mencegah segala kesengsaraan, dan bencana, serta mengabulkan segala keinginan. Mantra Gayatri akan melindungi kita di manapun kita berada, apakah di dalam bus atau mobil, di dalam kereta api atau pesawat terbang, di pasar atau di jalan, ataupun di tempat kerja.  Intinya mantra Gayatri menganugrahkan hal yang bermanfaat kepada orang yang mengucapkannya dengan penuh keyakinan.

Kita harus menjaga mantra Gayatri sepanjang hidup kita karena mantra Gayatri merupakan harta yang sangat berharga. Kita tidak boleh memperlakukan mantra Gayatri secara sembarang; hati kita harus selalu murni. Bila mantra Gayatri tidak diucapkan dengan benar, mantra itu menimbulkan efek sebaliknya, menyelubungi orang bersangkutan dengan kegelapan. Setiap kata dalam mantra Gayatri harus diucapkan dengan jelas dan tegas, tidak tergesa-gesa. Kasih dan hormat pada mantra Gayatri dengan keyakinan yang dijanjikan jauh lebih penting daripada sekadar pengulangan secara mekanis dengan pikiran melantur kemana-mana.

Mantra Gayatri sangat baik diucapkan pada waktu sebelum makan, pada waktu bangun tidur, dan pada waktu akan tidur. Setelah selesai mengucapkan mantra Gayatri kita harus mengucapkan santih tiga kali untuk memberikan kedamaian batin pada tiga hal dalam diri kita : badan, pikiran, dan jiwa.

Sebaiknya mantra Gayatri diucapkan pada waktu subuh, tengah hari, dan senja. Saat-saat tersebut juga dikenal sebagai Sandhya kalam yaitu pertemuan antara malam dan pagi, pagi dan sore, serta sore dan malam. Waktu-waktu tersebut bermanfaat untuk latihan rohani. Namun, kita tidak perlu terikat oleh ketiga periode tersebut dalam mengucapkan mantra Gayatri. Mantra Gayatri dapat diucapkan kapan saja dan di mana saja.

Mengucapkan mantra Gayatri sekurang-kurangnya 108 kali (satu japa mala) setiap pagi sangat dianjurkan. Ini hanya menghabiskan waktu lima belas menit. Mereka yang memilih mengucapkan mantra Gayatri sebagai latihan rohaninya, dapat melakukan tiga atau lima japa mala setiap pagi dan melakukan jumlah yang sama atau kurang pada sore hari. Mengucapkan 10 mala setiap minggu pagi dan hari-hari libur bukan hal yang tidak mungkin bagi ia  yang serius. Sementara melakukan Gayatri Purascharana  berarti mengucapkan japa 10 mala setiap pagi selama 24 atau 40 hari tanpa henti. Agar dapat menyerap kekuatan mantra, hidup yang murni dan diet yang satvik (memakan makanan yang baik) sangatlah penting.

Disarikan oleh Putu Hatesa dari Buku Kesaktian Mantra Gayatri

***

 

*Artikel ini juga diterbitkan di situs putuhatesa.com (click here to visit).

Dampak Semu Eksploitasi Kawasan Bali Selatan

Ditulis oleh : Wayan Indrabayu Pandi

Beberapa minggu terakhir, masyarakat Bali dihebohkan oleh pro kontra upaya upaya reklamasi pantai di Tanjung Benoa.

Pro kontra ini tidak sebatas perang argumen di media semata namun hingga memunculkan ancaman pemakzulan Gubernur Bali, Made Mangku Pastika. Alasannya karena Pastika dianggap tidak becus mengeluarkan surat keputusan (SK) pembangunan yang justru mengancam kelestarian alam Bali.

Polemik berkepanjangan ini pada akhirnya menarik perhatian saya untuk turut memberikan opini terhadap konflik yang terjadi. Saya sendiri bukanlah seorang ahli, melainkan hanya pelajar dan praktisi yang kebetulan bergelut dan mendalami dunia perencanaan. Melalui tulisan ini pun saya tidak berusaha mengkritisi atau turut berpolemik dalam masalah reklamasi, melainkan hanya memberikan sudut pandang pada aktivitas investasi yang banyak dilakukan di kawasan Bali Selatan.

 

Sebagaimana diketahui, kawasan Bali selatan (Badung, Denpasar, Gianyar) memang sudah sejak lama menjadi primadona dan tulang punggung ekonomi Bali khususnya untuk industri pariwisata. Sudah bukan hal aneh pula jika investasi dan pengembangan infrastruktur lebih diprioritaskan pada ketiga wilayah ini.

 

Secara makro bisa dikatakan pola pengembangan wilayah di Bali cenderung mengikuti konsep kutub pertumbuhan (Growth Pole), di mana kawasan Bali selatan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi. Growth pole telah lama diakui sebagai sebuah konsep yang secara instan mampu meningkatkan perekonomian wilayah. Sebagai bukti, dalam triwulan pertama 2013, pertumbuhan ekonomi Bali tercatat mencapai 6,71 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional (6,02 persen).

 

Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali (RTRWP), kawasan Sarbagita (Denpasar-Badung-Gianyar-Tabanan) ditetapkan menjadi pusat pertumbuhan serta kabupaten lainnya menjadi sub pusat pendukungnya. Konstelasi hubungan antar wilayah (kabupaten) di Provinsi Bali akan selalu menimbulkan pergerakan sumber daya baik itu manusia, komoditas hingga permodalan. Permasalahnya apakah linkage antar wilayah ini telah menghadirkan hubungan yang mutual bagi wilayah-wilayah lain di Bali?

 

Cepat
Investasi ekonomi (sarana dan prasarana) mayoritas diarahkan untuk melayani daerah perkotaan (Denpasar-Badung) yang relatif memiliki pertumbuhan cepat. Sebagai dampaknya, ekonomi kawasan rural tidak memperoleh nilai tambah yang proporsional akibat ketidakmampuan bersaing dengan daerah urban. Tipologi perekonomian daerah-daerah di Bali yang cenderung sama, bertumpu pada sektor pertanian dan pariwisata, menciptakan kesamaan produk jual, sehingga pemusatan investasi pada sebuah kawasan tentunya dapat mematikan potensi kawasan lainnya untuk berkembang.

 

Khusus untuk sektor pertanian, minimnya industri pengolahan di daerah juga semakin melemahkan daya saing wilayah di mana tercipta ketidakseimbangan nilai tukar produk daerah terhadap produk/jasa perkotaan. Kondisi ini menimbulkan surplus ekonomi di mana daerah menjual bahan baku dalam harga murah dan setelah melalui proses pengolahan, kota menjadikan daerah sebagai pasar dengan margin harga lebih besar. Dalam konteks demikian, wajar apabila terjadi eksploitasi sumber daya secara berlebihan sehingga seringkali merugikan ekonomi daerah itu sendiri.

 

Investasi ekonomi pada kawasan Bali selatan juga menghadirkan masalah sosial kependudukan. Pertumbuhan penduduk daerah Badung dan Denpasar yang hampir tiga kali lipat daerah lain di Bali mengindikasikan bahwa, atraksi ekonomi pada dua daerah ini benar-benar menjadi magnet bagi penduduk untuk bertempat tinggal. Tidak jarang bahkan, peningkatan jumlah penduduk datang dari arus migrasi daerah lain di Bali.

 

Bagi Badung dan Denpasar, peningkatan jumlah penduduk yang sedemikian tinggi jelas sudah menimbulkan masalah sosial ekonomi. Kemacetan, kriminal, dan spekulasi lahan yang tak terkontrol adalah sedikit contoh dari realita yang ada. Bagi daerah, kondisi ini juga menghadirkan dua ancaman pembangunan, eksploitasi sumber daya alam secara berlebih serta berkurangnya sumber daya manusia (SDM) untuk mendukung pembangunan.

 

Pada akhirnya masalah di atas bermuara pada satu isu utama, disparitas pembangunan antar wilayah.

 

Disparitas memang merupakan kelemahan pendekatan Growth Pole, dan Bali secara nyata menunjukkan bukti bahwa investasi ekonomi pada kawasan Bali Selatan telah menghadirkan ketimpangan sosial dan spasial terhadap daerah lain di sekitarnya.

 

Kembali ke masalah reklamasi kawasan Tanjung Benoa, terlepas dari benar tidaknya proses yang ditempuh, investasi pada kawasan Bali Selatan hanya akan menimbulkan jurang pemisah yang semakin lebar bagi kondisi perekonomian antarwilayah di Bali. Hal ini akan menjadi bom waktu bagi masalah-masalah social ekonomi dan budaya tidak hanya di Badung dan Denpasar namun juga kabupaten lainnya.

 

Pendekatan pembangunan berkonsep Growth Pole terang-terangan telah menghadirkan dampak semu, dimana secara rill dampaknya dirasa belum sebagus angka statistik. Melihat ketidakmutualan hubungan antar wilayah yang terbentuk, sudah sewajarnya jika pemerintah provinsi secara bijak mengalihkan prioritas investasi pada usaha-usaha ekonomi mikro, kecil dan menengah di daerah untuk meningkatkan daya saing daerah terutama di era otonomi dan pasar bebas ini. [b]

(Pernah diterbitkan dalam balebengong.net)

Wayan Indrabayu Pandi

Mahasiswa Magister Pembangunan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro melalui program beasiswa unggulan Diknas 2012 (Alumni saat ini)